2.4
Konsep
Dasar Fisioterapi Dada
2.4.1
Definisi
Fisoterapi Dada
Fisioterapi dada merupakan serangkaian tindakan
keperawatan yang bertujuan membersihkan dan mempertahankan kepatenan jalan
nafas. Dalam pelaksanaannya, tindakan tersebut dilakukan atas instruksi dokter
(Mubarak dan Chayatin, 2007: 173)
Fisioterapi dada
merupakan sekumpulan tindakan yang disusun untuk meningkatkan efisiensi
pernapasan, meningkatkan pengembangan paru, kekuatan otot pernapasan, dan
mengeliminasi sekret yang berasal dari sistem pernapasan (Saputra, 2013: 142).
Fisioterapi dada (chest
physiotherapy) merupakan suatu kelompok terapi yang digunakan untuk
memobilisasi secret pulmonal. Terapi tersebut termasuk drainase postural,
perkusi dada, dan vibrasi (Potter dan Perry, 2010: 38)
Fisioterapi dada (chest
physioterapy / CPT) (perkusi dan memosisikan) adalah metode lain yang
efektik untuk mencegah pneumonia dan menjaga jalan nafas tetap bersih. CPT
membantu klien mendrainase dan mengeluarkan secret (Potter dan Perry, 2010:
508)
2.4.2
Jenis
Fisioterapi Dada
Fisioterapi dada terbagi atas 3 jenis tindakan yaitu
(Asmadi, 2008: 35)
1)
Perkusi (Clapping)
Perkusi disebut juga clapping adalah pukulan kuat, bukan berarti sekuat kuatnya, pada din ding dada dan punggung dengan tangan
dibentuk seperti rnangkuk.
2)
Vibrasi (Vibrating)
Vibrasi adalah getaran kuat secara
serial
yang dihasilkan perawat yang diletakkan datar pada din ding dada klien.
3)
Postural Drainage
Postural
drainage merupakan salah satu intervensi untuk melepaskan
sekresi dari berbagai segmen
paru-paru dengan
menggunakan pengaruh
gaya gravitasi. Waktu
yang terbaik untuk melakukannya yaitu sekitar
1 jam sebelum
sarapan
pagi dan sekitar 1 jam sebelum tidur pada malam hari.
Postural drainage harus lebih sering dilakukan apabila lendir
klien berubah warnanya rnenjadi kehijauan dan
kental
atau
ketika klien
menderita demam. Hal yang perlu diperhatikan dalam
pelaksanaan postural drainage antara lain:
(1) Batuk
dua atau tiga kali berurutan setelah setiap kali berganti posisi.
(2) Minum
air hangat setiap hari sekitar 2 liter.
(3) Jika harus menghirup bronkodilator,
lakukanlah 15 menit sebelum melakukan postural drainage.
(4) Lakukanlah latihan napas dan latihan
lain yang dapat membantu mengencerkan lendir.
2.4.3
Tujuan
Fisioterapi Dada
1)
Mengeluarkan sekresi di jalan nafas
2)
Mengalirkan dan mengeluarkan sekret yang
berlebihan.
3)
Menurunkan akumulasi sekret pada klien
yang tidak sadar atau lemah.
2.4.4
Indikasi
Fisioterapi Dada
Teknik fisioterapi yang digunakan pada orang dewasa secara umum dapat
diterapkan untuk bayi dan anak-anak. Dalam memberikan fisioterapi pada anak
harus diingat keadaan anatomi dan fisiologi pada anak seperti pada bayi yang
belum mempunyai mekanisme batuk yang baik sehingga mereka tidak dapat
membersihkan jalan nafas secara sempurna.Sebagai tambahan dalam
memberikan fisioterapi harus didapatkan kepercayaan daripada anakanak, karena
anak-anak tersebut sering tidak koperatif (Febrianto, 2013: 6).
2.4.5
Kontra
Indikasi Fisioterapi Dada
Kontra indikasi relatif seperti infeksi paru berat, patah tulang
iga atau luka baru bekas operasi, tumor paru dengan kemungkinan adanya
keganasan serta adanya kejang rangsang (Febrianto, 2013: 6).
2.4.6
Prosedur
Tindakan Fisioterapi Dada
Prosedur tindakan yang dapat
dilakukan menurut (Asmadi, 2008: 35).
1)
Perkusi (clapping)
Tujuan:
Secara mekanik dapat melepaskan
sekret yang melekat pada dinding bronkus.
Prosedur :
(1)
Tutup area yang akan dilakukan perkusi dengan handuk
atau pakaian untuk mengurangi ketidaknyamanan.
(2)
Anjurkan klien tarik nafas dalam dan lambat untuk
meningkatkan relaksasi.
(3)
Perkusi pada tiap segmen paru selama 1-2 menit.
(4)
Tidak boleh dilakukan pada daerah dengan struktur yang
mudah terjadi cedera. Seperti : mammae, sternum dan ginjal.
2)
Vibrasi
Tujuan:
Vibrasi digunakan setelah perkusi untuk meningkatkan turbulensi udara ekspirasi dan melepaskan
mukus yang kental. Seringdilakukan bergantian dengan perkusi.
Prosedur
(1)
Letakan tangan, telapak tangan menghadap ke bawah di
area dada yang akan di drainage.Satu tangan diatas tangan yang lain dengan
jari-jari menempel bersama dan ekstensi. Cara yang lain bisa di letakan secara
bersebelahan.
(2)
Anjurkan klien untuk menarik nafas dalam melalui
hidung dan menghembuskan nafas secara lambat lewat mulut.
(3)
Selama masa ekspirasi, tegangkan seluruh otot tangan
dan lengan dan gunakan hampir semua tumit tangan. Getarkan(kejutkan) tangan,
gerakan kea rah bawah. Hentikan getaran jika klien melakukan inspirasi.
(4)
Setelah tiap kali vibrasi, anjurkan klien batuk dan
keluarkan secret.
3)
Postural drainage
Hal yang
harus diperhatikan dalam melakukan postural drainage antara lain :
(1)
Batuk 2 atau 3 kali setelah setiap kali berganti
posisi
(2)
Minum air hangat setiiap hari 2 liter
(3)
Jika harus menghirup bronkodilator, lakukanlah 15 menit
sebelum melakukan postural drainage.
(4) Melakukan
latihan nafas dan latihan lain yang dapat membantu mengencerkan lendir.
Peralatan :
Peralatan :
a.
Bantal 2 atau 3
b.
Papan pengatur posisi
c.
Tisu wajah
d.
Segelas air
e.
Sputum pot
Prosedur :
(1)
Cuci tangan
(2)
Pilih area yang tersumbat yang akan di drainage
berdasarkan pengakajian semua area paru, data klinis, dan chest X-ray.
(3)
Baringkan klien dalam posisi duduk untuk mendrainage
area yang tersumbat
(4)
Minta klien mempertahankan posisi tersebut selama
10-15menit
(5)
Selama 10-15 menit drainage pada posisi tersebut,
lakukan perkusi dan vibrasi dada di atas area yang di drainage.
(6)
Setelah drainage pada posisi pertama, minta klien
duduk dan batuk, bila tidak bisa batuk, lakikan suction. Tampung sputum di pot.
(7)
Minta klien istirahat sebentar bila perlu.
(8)
Anjurkan klien minum sedikit air
(9)
Ulangi langkah 3-8, sampai semua area tersebut telah ter-drainage.
(10) Ulangi
pengkajian dada pada bidang paru
(11) Cuci tangan
(12) Dokumentasikan
DAFTAR PUSTAKA
Poter,
Patricia A, dan Perry, Anne G. 2010. Fundamental
Keperawatan. Ed 7. Jakarta :
Salemba Medika
Mubarak,
Wahit Iqbal dan Chayati, Nurul. 2007. Buku
Ajar Kebutuhan Dasar Manusia : teori dan aplikasi dalam praktik. Jakarta :
EGC.
Temple,
Jean Smith dan Johnson, Joyce Young. 2010. Buku
Saku Prosedur Klinis Keperawatan. Ed 5. Jakarta : EGC
Saputra,
Lyndon. 2013. Pengantar Kebutuhan Dasar
Manusia. Tangerang Selatan : Binarupa Aksara Publisher.
Lubis, Helmi. M. 2014. Fisioterapi Pada Penyakit
Paru Anak. Sumatra Utara : Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara.
0 komentar:
Posting Komentar