Senin, 29 Juni 2015

Lapaoran Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Asma Bronkial

Standard

  • BAB  I
    PENDAHULUAN
    A.    Latar Belakang
    Penyakit Asma Bronkial dapat menyerang semua golongan usia, baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak. Dari waktu ke waktu baik di negara maju maupun negara berkembang prevalensi asma meningkat. Asma merupakan sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia, hal ini tergambar dari data studi survey kesehatan rumah tangga (SKRT) di berbagai provinsi di Indonesia.
    SKRT pada tahun 1986 menunjukkan bahwa Asma menduduki peringkat ke-5 dari 10 (sepuluh) penyebab kematian ke-4 di Indonesia atau sebesar 5,6%. Pada tahun 1995 prevalensi asma di seluruh Indonesia sebesar 13 %. Menurut Staf Departemen Paru divisi asma dan PPOK Rumah Sakit Persahabatan dan Budhi Antariksa, hingga kini diperkirakan sekitar 5% dari total penduduk Indonesia atau sekitar 11 juta juga menderita asma (Republika 27 Maret 2007).
    Asma dapat timbul pada berbagai usia, gejalanya bervariasi dari ringan sampai berat dan dapat dikontrol dengan berbagai cara. Gejala asma dapat ditimbulkan oleh berbagai rangsangan antara lain infeksi, alergi, obat-obatan, polusi udara, bahan kimia, beban kerja atau latihan fisik, bau-bauan yang merangsang dan emosi.
    Prevalensi asma di seluruh dunia adalah sebsar 80% pada anak dan 3-5% pada dewasa, dan dalam 10 tahun terakhir ini meningkat sebesar 50%. Selain di Indonesia prevalensi asama di Jepang dilaporkan meningkat 3 kali disbanding di tahun 1960 yaitu dari 1,2 % menjadi 3,14 %.
    Penyebab pada asma sampai saat ini belum diketahuii namun dari hasil penelitian terdahulu menjelaskan bahwa saluran nafas penderita asma mempunyai sifat yang sangat khas yaitu sangat peka terhadap rangsangan.
    B.     Tujuan Penulisan
    1. Tujuan Umum
    Penulis dapat menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan asma bronchial
    1. Tujuan Khusus
    a.       Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengna asma bronchial.
    b.      Mampu menentukan masalah atau diagnosa keperawatan pada pasien dengan asma bronchial.
    c.       Mampu merencanakan tindakan keperawatan pada pasien dengan asma bronchial.
    d.      Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien dengan asma bronchial.
    e.       Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada pasien dengan asma bronchial.
    f.       Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan secara baik dan benar.
    C.    Ruang Lingkup
    Asuhan keperawatan pada klien dengan asma bronchial, pada kasus ini penulis menggunakan metoda pemecahan masalah yaitu dengan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, perumusan masalah, diagnosis pelaksanaan dan evaluasi.
    D.    Metode Penulisan
    Metode yang digunakan dalam penulisan Askep ini adalah studi kasus yaitu pengamatan langsung terhadap klien mengenai penyakit dan perkembangan, perawatan serta pengobatan klien dengan asma bronchial.
    Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :
    1.      Studi kepustakaan untuk mendapatkan sumber-sumber teoritis yang berhubungan dengan asuhan keperawatan pada klien dengan asma bronchial
    2.      Observasi langsung pada klien dengan melakukan pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk mendapatkan data tentang keadaan fisik, psikis, sosial, spiritual dan observasi tidak langsung dilakukan dengan melihat catatan atau status klien
    3.      Wawancara dengan klien dan keluarga untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi keadaan klien.

    BAB  II
    LAPORAN PENDAHULUAN
    A.    Konsep Dasar Penyakit Asma Bronchial
    1.      Anatomi Fiosiologi Paru
    Sistem pernafasan terdiri dari saluran pernafasan (rongga hidung, rongga mulut, foring, laring, trachea, bronkus, bronkiolus dan alveoli
    Laring membagi saluran pernafasan menjadi 2 bagian :
    a.       Saluran pernafasan atas
    b.      Saluran pernafasan bawah
    Rongga Hidung
    Rongga hidung terdiri atas
    a.       Vestibulum yang dilapisi oleh sel submukosa sebagai pelindung
    b.      Dalam rongga hidung terdapat rambut yang berperan sebagai pelapis udara
    c.       Struktur konka berfungsi sebagai proteksi terhadap udara luar.
    d.      Sel sillia berperan untuk melemparkan benda asing keluar saluran dalam usaha membersihkan jalan nafas
    Fungsi Rongga Hidung
    a.       Sebagai bagian dari sistem respirasi
    b.      Sebagai fungsi dari preventif, dilaksanakan oleh bulu hidung, sebagai penyaring debu dan sillia sebagai pembersih jalan nafas
    c.       Sebagai funngsi pelicin atau pelumas yang dilaksanakan oleh submukosa dan sel qoblet
    d.      Sebagai fungsi pemanas dan pendingin udara yang dilaksanakan oleh vaskularisasi rongga hidung
    Rongga mulut
    Peranan rongga mulut dalam pernafasan adalah hanya waktu bersuara atau tersumbatnya rongga hidung
    Faring
    Merupakan bagian belakang dari rongga hidung dan rongga mulut,terdiri dari nasofaring, orofaring, laringofaring, berperan sebagai pemisah jalan udara dan makanan
    Laring
    Fungsi utama laring adalah sebagai alat suara dan di dalam saluran pernafasan berfungsi sebagai jalan udara.
    Trakea
    Trakea merupakan suatu cincin tulang rawan yang tidak lengkap (berbentuk C). Panjang trakea kira-kira 10 cm yang terdiri dari 16-20 cincin tulang rawan.
    Bronkus
    Bronkus merupakan struktur yang terdapat di dalam mediastinum, yang merupakan percabangan dari erakea dan membentuk bronkus utama kanan dan kiri. Panjang cabang bronkus utama ± 5 cm, diameternya 11-19 cm dan luas penampangnya  3,2 cm2.
    Sudut tajam yang dibentuk oleh percabangan trakea disebut Karina. Bronkus utama mempunyai 3 cabang yaitu bronkus lobaris superior, medialis dan inferior.
    Sedangkan bronkus utama kiri mempunyai 2 cabang yaitu bronkus lobaris, superior dan inferior. Diameter dari bronkus lobaris adalah 4,5-11,5 mm dengan luas penampang ± 2,7 cm2.
    Bronkus lobaris bercabang menjadi bronkus segmentalis, dimana paru kanan mempunyai 10 segmen dan paru kiri mempunyai 3 segmen.
    Bronchiolus Duktus Alveolaris dan Alveolus
    Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus, kemudian terbagi lagi duktus-duktus Alveolaris.
    Duktus Alveolaris merupakan tangkai dari alveolus dan bersama-sama dengan bronkiolus resopiratorius, merupakan bagian dari suatu unit fungsional paru, dimana pertukaran gas.
    Paru
    Terbagi menjadi paru kanan dan paru kiri. Setiap paru dilindungi oleh selaput yang disebut pleura, yaitu pleura viseralis, yang melapisi rongga dada sebelah dalam.
    Pembuluh darah pada paru:
    a.       Sirkulasi pulmonal berasal dari ventrikel kanan yang tebal 1/3 dari tebal ventrikel kiri.
    b.      Selain aliran melalui arteri pulmonal ada darah yang langsung ke paru yaitu dari aorta melalui arteri pulmonalis yang kaya akan O2.
    c.       Arteri pulmonalis membawa darah yang sedikit mengandung udara dari vertikel kanan ke paru.
    Pernafasan (Respirasi)
    Adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung O2 (oksigen) dan mengeluarkan CO2 (karbondioksida) sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh.
    Fungsi Saluran Pernafasan :
    a.       Sebagai saluran, yaitu yang dilakukan oleh hidung, faring, laring, trakea, bronkus, bronkeolus.
    b.      Sebagai alat difusi/pertukaran gas, dilakukan oleh bronkolus, respiratorius, duktus alveolaris, dan alveolus.
    c.       Sebagai saringan untuk partikel yang lebih dari 10 mikron, dilaksanakan oleh bulu hidung, mukosa hidung dan faring.
    d.      Melembabkan, dilakukan oleh mukus dan pembuluh darah pada mukosa hidung dan faring.
    e.       Menyesuaikan suhu udara pernafasan dengan suhu tubuh.
    Proses pernafasan terdiri dari 4 tahap yaitu :
    a.       Ventilasi
    Peristiwa masuknya dan keluarnya udara ke dalam paru (inspirasi dan ekspirasi). Prosesnya dipengaruhi oleh : kondisi saluran pernafasan, kondisi otot-otot pernafasan dan rangka thorak, volume dan kapasitas paru dan fungsi pusat pernafasan, serta saraf spiral yang mempersyarafi otot-otot pernafasan.
    b.      Difusi
    Pertukaran oksigen dan karbondioksida yaitu, perpindahan oksigen dari alveoli ke dalam darah dan karbondioksida dari darah ke alveoli.
    Prosesnya dipengaruhi oleh suhu tubuh, perbedaan tekanan atau konsentrasi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan darah, ketebalan membran respirasi.
    c.       Perfusi
    Peristiwa distribusi darah di dalam paru
    d.      Tranfortasi Gas
    Proses distribusi oksigen ke seluruh jaringan
    Proses tranportasi dipengaruhi oleh kondisi pompa jantung dan vaskuler (sistem kardiovaskuler), kosentrasi hemogtobin.
    2.      Pengertian Asma Bronchial
    Asma bronchial adalah gangguan fungsi aliran udara paru yang ditandai oleh kepekaan saluran nafas terhadap berbagai rangsangan dengar karakteristik bronkospasme, hiper sekresimukosa dan infeksi saluran pernafasan.
    Sedangkan mernurut Manahutu E.Y (1992) bahwa Asma bronchial adalah penyakit dengan karakteristik peningkatan hiperaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan. Dengan manifestasi penyempitan trachea dan bronkus yang luas dan menyeluruh dengan derajat yang berubah, karena pengobatan maupun secara spontan.bronkospasme,  
    1. Etiologi
    Etiologi yang pasti dari asma belum diketahui, dari hasil penelitian yang dilakukan, menjelaskan bahwa saluran nafas penderita asma mempunyai sifat yang sangat khas, yaitu sangat peka terhadap berbagai rangsangan.
    Faktor-faktor yang dapat menyebabkan asma adalah sebagai berikut :
    a.       Faktor pencetus
    1)        Alergen (makanan, bumbu masak, bulu binatang, debu,dll)
    2)        Asap rokok
    3)        Zat-zat di tempat kerja (woll, debu, tepung, serbuk kayu)
    4)        Obat-obatan : Aspirin, penicilin
    5)        Infeksi terutama oleh virus
    6)        Emosi
    7)        Lingkungan dan cuaca, udara yang terlalu lembab, terlalu panas, atau dingin.
    8)        Aktivitas fisik yang berlebihan
    9)        Aktor yang sulit dihindarkan: bau tajam
    10)    Penyakit tertentuyang memperberat : infeksi hidung (sinusitis).
    b.      Faktor Keturunan
    1. Patofisiologi
    Dasar kelainan pada asma adalah suatu hiperaktivitas bronkus yaitu sindroma klinik yang ditandai oleh kepekaan saluran nafas terhadap berbagai rangsangan, baik rangsangan dari dalam maupun dari luar.
    Dengan manifestasi penyempitan saluran nafas yang menyeluruh dengan derajat yang berubah-ubah secara spontan atau dengan pengobatan (faisal yunus;1990).
    Ada 2 komponen penyempitan saluran nafas pada asma yaitu :
    a.       Bronkospasme
    Disebabkan karena kontraksi otot polos bronkus.
    b.      Inflamasi dinding mukosa saluran nafas
    Menyebabkan edema dan hiopersekresi mukosa. Hal
    tersebut menyebabkan obstruksi aliran udara. 




    1. Manifestasi Klinis
    a.       Batuk keras karena gatal di tenggorokan.
    b.      Dipsnoe yang hebat.
    c.       Cianosis pada ekstrenitas atas dan bawah.
    d.      Nafas berbunyi / mengi (wheezing).
    e.       Nadi cepat dan dangkal.
    f.       Keringat dingin dan takut pada waktu serangan biasanya pada malam hari.
    g.      Produksi spontan.
    Klasifikasi asma
    Derajat serangan asma akut

    Derajat I
    Derajat II
    Derajat III
    Derajat IV
    Sesak
    Masih jalan, berbaring
    Bila bicara duduk
    Pada istirahat miring ke depan

    Bicara
    Masih dalam kalimat
    Kata-kata
    Kata

    kesadaran
    Mungkin gelisah
    Biasanya gelisah
    Gelisah
    Ngantuk,  menurun
    Frekuensi nafas
    Meningkat
    Meningkat
    ≥ 30 x / menit

    Otot nafas tambahan
    Tidak digunakan
    Biasanya ada
    Gelisah
    Gerakan nafas paradoks
    Mengi
    Sedang
    Nyaring
    Biasanya nyaring
    Sering tidak terdengar mengi
    Nadi
    < 100
    100-200
    >120
    Bradikardi
    Per (100x/menit)
    > 80%
    60-80%
    < 60%

    Pa O2 tanpa O2
    Normal
    > 60 mmHg
    < 60 mmHg

    Pa O2
    <45 mmHg
    < 45 mmHg
    ≥ 45 mmHg

    Sa O2
    >95%
    91-95%
    < 90%


    1. Pemeriksaan Diagnostik
    Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada penderita asma adalah
    a.       Uji Foal Paru (spirometri)
    Volume ekspirasi paksa detik 1 (Vep-1) dan kapasitas vital paksa
                b.   Lab
                      1)   Darah tepi : Eosinovilia
    2)   Uji kulit     : Dengan alergen pada asma alergi (uji prick)
    3)   serum         : Iqe spesifik meningkat
    4)   Sputum      : Terdapat eosinofil, spiral, curschumann dan kristal,                                             chardet layden.
    7.   Penatalaksanaan Medis Asma Bronchial
          a.   Usaha Pencegahan
                1)   Usaha menghindari faktor pencetus
    2)   Imunoterapi : hanya pada kasus tertentu. Alergen secara periodik dimulai dari dosis kecil, kemudian ditingkatkan dengan tujuan menimbulkan kekebalan terhadap alergen pencetus serangan.   
    b.   Obat-obatan untuk pencegahan
          1)   Korti kosteroid
                Tipikal yang mempunyai manfaat anti inflamasi yang kuat.
          2)   Kromolin
          Bekerja menstabilkan sel mast dan mengurangi pelepasan mediator penyebab bronkospasme.
    3)   Cetotiven
          Mempunyai efek menghambat pelepasan mediator dari sel mast dan efek profilaksis pada asma ekstrinsik terutama pada anak.
    c.   Pengobatan pada serangan asma
          1)   Bronkodilator
          Obat pelega, melebarkan jalan nafas terutama dengan jalan merelaksasikan otot polos bronkus, contohnya antagonis beta 2, metilkantin, anti kolinergik.
    2)   Kortikostroid
    3)   Anti biotik : bila ada infeksi
    4)   Terapi cairan melalui infus
    5)   Terapi oksigen : 2-4 L/menit
    6)   Fisioterapi dada dan terapi intalasi
    BAB III
    ASUHAN KEPERAWATAN TEORI

    A.    Pengkajian keperawanan, terdiri dari :
    a.   Riwayat Kesehatan terdiri dari :
          1)   Data Biografi
    Nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, bangsa, bahasa yang digunakan, alamat, sumber biaya.
    2)   Riwayat penyakit sekarang
          Keluhan utama, kapan mulai sakit, faktor pencetus, terjadinya tiba-tiba atau berangsur-angsur, pengobatan yang telah diberikan, efek obat yang telah diberikan.
    3)   Riwayat kesehatan yang lalu.
          a)   Hal-hal yang dapat menjadi pemicu serangan asma, baik fisik maupun psikologisseperti : alergaen inhalasi, infeksi saluran nafas bagian atas, obat dan makanan, aktivitas olahraga (joging aerobik), kerja keras dan riwayat asma saat beraktivitas, cemas dan panik.
          b)   Pengalaman yang dirawat, keluhan yang sering dialami, pengalaman yang lalu tentang episode asma.
          c)   Riwayat alergi, makanan berpantang, kebiasaan berobat, dan obat yang biasa diminum atau digunakan.
    4)   Pengalaman dirawat, keluhan yang sering dialami, pengalaman yang lalu tentang episode asma.
    5)   Riwayat kesehatan lingkungan.
    6)   Riwayat psikososial : suasana hati, karakteristik, perkembangan mental, kepekaan lingkungan, sosialisasi, gaya hidup, pola koping perspsi klien tentang penyakitnya, pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit asma,faktor pencetus asma, penatalaksanaan medis dan keperawatan serta lain-lain.
    7)   Kebiasaan sehari-hari : pola nutrisi (makan dan minum), pola istirahat, pola aktivitas, pola eliminasi dan pola komunikasi. 
    8)   Kebutuhan dan aktivitas spiritual.
    b.   Pemeriksaan Fisik
          1)   Penampilan Umum
                Klien tampak kelelahan bingung, gelisah, dan pucat.
          2)   Status Neurologi
                Penurunan tingkat kesadaran pada klien asma, terjadi karena ketidak seimbangan, asam basa.
    3)   Status respirasi
          a)   Inspeksi
          Klien tampak sesak, dyspnea, hiperventilasi, peningkatan kerja, nafas ditandai dengan : penggunaan otot bantu pernafasan, retraksi otot-otot intercostal, otot substernal, dan supraclavicula, respirasi rate : lebih dari 24 kali permenit.
    b)   Auskultasi
          Bunyi nafas melemah, ada wheezing pada saat ekspirasi, ada ronchi
    c)   Palpasi
          Taktil fremitus meningkat / menurun atau tetap.
    d)   Perkusi
                      Resonan meningkat / melemah.
    4)      Status Cardiovaskuler
    a)   Nadi
          Tachikardia, adanya arytmia, distensi vena jugularis.
    b)   Tekanan Darah
    Awalnya meningkat, namun karena terjadi hiperinflasi maka tekanan intra ehorak meningkat, tekanan darah menurun.
    c)   Adanya pulsus paradoks (penurunan tekanan darah). Sistolik ± 10 mmhg atau lebih pada waktu inspirasi.
    d)   Pengisian kapiler : awlnya normal dan lebih dari 3 detik bila serangan makin memburuk.
    5)      Sistem Gastro Intestinal
                Mulut dan membran mukosa kering, adanya mual, muntah karena alergi terhadap makanan.
    c.       Pemeriksaan Penunjang
          1)   Laboratorium
                Peningkatan serum I q E, test alergi (+)
    2)   Rontgen Thorak
          Hyperventilasi
    3)   Analisa Gas Darah
    a)      Pada serangan asma awal : ph meningkat, Pa Co2 menurun, Pa O2 menurun, chyperventilasi, hipokarbia
    b)      Serangan progresif (progresive attack)
    Ph normal, pa co2 normal, pa o2 menurun (penurunan ventilasi alveolar)
    c)      Prolog attack status asmatikus :
    Ph menurun, Pa Co2 meningkat, Pa O2 menurun, (hypercarbia ventilasi tidak adekuat, hipoventilasi, respirastory)
    2.      Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul
    a.       Tidak efeknya bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sputum
    b.      Pola nafas tidak efefktif  berhubungan dengan brokokonstriksi
    c.       Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan supply oksigen
    d.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
    e.       Keterbasan aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik
    f.       Kurangnya pengetahuan tentang proses-proses penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi.
    3.         Prioritas Masalah
    1.      Tidak efeknya bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sputum.
    2.      Pola nafas tidak efefktif  berhubungan dengan brokokonstriksi
    3.      Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan supply oksigen.

    4.   Rencana Keperawatan
    No .
    Diagnosa Kep.
    Rencana Tindakan
    Rasional

    Tujuan & Kriteria Hasil
    Intervensi

    1.
    Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sputum.









    Setelah dilakukan perawatan selama 2 x 24 jam, jalan nafas kembali efektif.
    Kriteria Hasil:
    1.      Sputum tidak ada.
    2.      Mengi dan ronci tidak ada.
    3.      Sesak nafas berkurang atau hilang.
    4.      TTV dalam batas normal :
    TD = 90/60 -   140/90 mmHg.
    RR = 16-24x/mnt
    S = 36 – 37 c
    N = 60 – 100 x/mnt.
    1.   Auskultasi bunyi nafas
    2.   Ajarkan Klien penggunaan pernafasan diafragma dan batuk efektif
    3.   Beri minum Klien 6-8 gelas per hari (air hangat).
    4.   Bantu dalam pemberian tindakan inhaler dosis terukur.

    1.    Mengetahui adanya suara mengi dan ronchi karena obstruksi jalan nafas.
    2.    Memperbaiki ventilasi dan untuk menghasilkan sekresi tanpa menyebabkan sesak nafas.
    3.    Hidarsi membantu menurunkan kekentalan sekret dan mempermudah pengeluaran.
    4.    Tindakan ini menambahakan air dalam percabanagan bronchial dan pada sekret memudahkan pengeluaran sekret.

    2.
    Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan bronkokonstriksi.
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan pola nafas kembali efektif.
    Kriteria Hasil
    1.      Tidak menggunakan otot bantu pernafasan.
    2.      Ekspansi dada kanan kiri simetris.
    3.      Tidak menggunakan cuping hidung.
    4.      TTV Normal :
    TD = 90/60 – 140/90 mmHg
    RR = 16 – 24 x/mnt
    SH = 36 -37 c
    ND = 60 – 100 x/mnt
    1.      Ajarkan klien pernafasan diafragmatik dan pernafasan bibir.
    2.      Berikan dorongan untuk mengelilingi aktifitas denganperiode istirahat.
    3.      Berikan oksigen sesuai indikasi.
    4.      Berikan intake cairan
    1.   Membantu klien memperpanjang waktu ekspirasi.
    2.   Memberikan jeda aktifitas, memungkinkan klien untuk melakukan aktifitas, tanpa distres berlebihan.
    3.   Kekurangan oksigen yang berlangsung lama dapat menyebabkan hipoksia.
    4.    Mengontrol sejauh mana ekspansi paru.


    3.
    Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai O2.

    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam : perbaikan dalam pertukaran gas
    Kriteria Hasil:
    1.      Gas darah arteri dalam batas normal
    2.      Warna kulit kemerahan.
    3.      Frekwensi pernafasan 16-24 x/ menit.
    4.      Ronchi, wheezing tidak ada.
    1.      Pantau hasil gas darah arteri
    2.      Berikan O2 sesuai indikasi
    3.      Pertankan posisi fowler
    4.      Usahakan suhu udara sejuk dan nyaman

    1.      Untuk mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari susunan yang diharapkan.
    2.      Kekurangan O2 yang berlangsung lama dapat memyebabkan hipoksia.
    3.      Posisi ini akan memungkinkan ekpansi paru yang lebih baik.
    4.      Udara sejuk memungkinkan bernafas lebih baik.



       5. Implementasi
    No.
    Implementasi
    1.
    a.     Mengauskultasi bunyi nafas
    b.    Mengajarkan klien menggunakan pernafasan diafragma dan batuk efektif.
    c.     Memberikan minum klien 6-8 gelas per hari (air hangat)
    d.    Membantu dalam pemberian tindakan inhaler dosis terukur.
    2.
    a.       Mengajarkan klien pernafasan diafragmatik dan pernafasan bibir.
    b.      Memberikan dorongan untuk mengelilingi aktifitas dengan periode istirahat.
    c.       Memberikan oksigen sesuai indikasi.
    d.      Memberikan intake cairan.
    3.
    a.       Memamantau hasil gas darah arteri.
    b.      Memberikan O2 sesuai indikasi.
    c.       Mempertahankan posisi fowler.
    d.      Mengusahakan suhu udara sejuk dan nyaman.
    e.       Memberikan waktu istirahat klien.
    f.       Mengkolaborasi/lanjutkan pemberian obat; nama, dosis, waktu, cara.