Senin, 09 Februari 2015

PROSEDUR DIAGNOSTIK PADA MASALAH SISTEM RESPIRASI TERBARU

Standard


Metode Morfologi

A.    Teknik Radiologi
            Toraks merupakan tempat yang ideal untuk pemeriksaan radiologi. Parenkim paru yang berisi udara memberikan resistensi yang kecil terhadap jalannya sinar X, karena itu parenkim menghasilkan bayangan yang sangat bersinar-sinar. Jaringan lunak dinding dada, jantung dan pembuluh-pembuluh darah besar serta diafragma lebih sukar ditembus sinar X dibandingkan parenkim paru sehingga bagian ini akan tampak lebih padat pada radiogram. Struktur toraks yang bertulang (termasuk iga, sternum dan vertebra) lebih sulit lagi ditembus, sehingga bayangannya lebih padat lagi. Metode radiografi yang biasa digunakan untuk menentukan penyakit paru adalah:
a)      Radiografi Dada Rutin
            Dilakukan pada suatu jarak standar setelah inspirasi maksimum dan menahan napas untuk menstabilkan diafragma. Radiograf diambil dengan sudut pandang posteroanterior dan kadang juga diambil dari sudut pandang lateral dan melintang. Radiograf yang dihasilkan memberikan informasi sebagai berikut:
·         Status rangka toraks termasuk iga, pleura dan kontur diafragma dan saluran napas atas pada waktu memasuki dada.
·         Ukuran, kontur dan posisi mediastinum dan hilus paru, termasuk jantung, aorta, kelenjar limfe dan percabangan bronkus
·         Tekstur dan derajat aerasi parenkim paru
·         Ukuran, bentuk, jumlah dan lokasi lesi paru termasuk kavitasi, tanda fibrosis dan daerah konsolidasi.
b)      Tomografi computer (CT Scan)
            Yaitu suatu teknik gambaran dari suatu “irisan paru” yang diambil sedemikian rupa sehingga dapat diberikan gambaran yang cukup rinci. CT scan dipadukan dengan radiograf dada rutin. CT scan berperan penting dalam:
·         Mendeteksi ketidaknormalan konfigurasi trakea serta cabang utama brronkus
·         Menentukan lesi pada pleura atau mediastinum (nodus, tumor, struktur vaskular)
·         Dapat mengungkapkan sifat serta derajat kelaianan bayangan yang terdapat pada paru dan jaringan toraks lain
CT scan bersifat tidak infasif sehingga CT scan mediastinum sering digunakan untuk menilai ukuran nodus limfe mediastinum dan stadium kanker paru, walaupun tidak seakurat bila menggunakan mediastisnokopi.
c)      Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI).
            MRI menggunakan resonansi magnetic sebagai sumber energy untuk mengambil gambaran potongan melintang tuubuh. Gambaran yang dihasilkan dalam berbagai bidang, dapat membedakan jaringan yang normal dan jaringan yang terkena penyakit (pada CT scan tidak dapat dibedakan), dapat membedakan antara pembuluh darah dengan struktur nonvascular, walaupun tanpa zat kontras. Namun, MRI lebih mahal dibandingkan CT scan. MRI khususnya digunakan dalam mengevaluasi penyakit pada hilus dan mediastinum.
d)     Ultrasounds
            Tidak dapat mengidentifikasi penyakit parenkim paru. Namun, ultrasound dapat membantu mendeteksi cairan pleura yang akan timbul dan sering digunakan dalam menuntun penusukan jarum untuk mengambil cairan pleura pada torakosentesis.
e)      Angiografi Pembuluh Paru.
            Memasukkan cairan radoopak melalui kateter yang dimasukkan lewat vena lengan ke dalam atrium kanan, ventrikel kanan lalu ke dalam arteri pulmonalis utama. Teknik ini digunakan untuk menentukan lokasi emboli massif atau untuk menentukan derajat infark paru. Resiko utama dalam angiografi yaitu timbulnya aritmia jantung saat kateter dimasukkan ke dalam bilik jantung.
f)    Pemindaian Paru
                        Pemindaian paru dengan menggunakan isotop, walaupun merupakan metode yang kurang dapat diandalkan untuk mendeteksi emboli paru, tetapi prosedur ini lebih aman dibandingkan dengan angiografi.
B.     Bronkoskopi
            Bronkoskopi merupakan tehnik yang memungkinkan visualisasi langsung trakea dan cabang-cabang utamanya. Bronkoskopi adalah inspeksi dan pemeriksaan langsung terhadap laring, trakea, dan bronki baik melalui bronkoskopi serat optik yang fleksibel atau bronkoskopi yang kaku. Cara ini paling sering digunakan untuk memastikan diagnosis karsinoma bronkogenik, tetapi dapat juga digunakan untuk membuang benda asing.
            Setelah bronkoskopi, pasien tidak boleh makan atau minum minimum 2 sampai 3 jam sampai timbul reflex munta, jika tidak pasien mungkin akan mengalami aspirasi ke dalam cabang trakeobronkial.
a)    Tujuan bronkoskopi diagnostic
·         Untuk memeriksa jaringan atau mengumpulkan sekresi
·         Untuk menentukan lokasi dan keluasan proses patologi dan untuk mendapatkan contoh jaringan guna untuk menegakkan diagnosa.
·         Menentukan apakah suatu tumor dapat direksesi atau tidak melalui tindakan bedah.
·         Untuk mendiagnosa tempat perdarahan.
b)   Jenis-jenis brokoskop
·         Bronkoskop serat optic
            Adalah bronkoskop yang tipis dan fleksibel yang dapat diarahkan kedalam bronki segmental.ukurannya yang lebih kecil, fleksibilitas, dan system optikal yang sangat baik, bronkoskop serat optic  memungkinkan peningkatan visualisasi jalan napas perifer dan sangat tepat untuk mendiagnosa lesi pulmonal. Bronkoskopi serat optic lebih baik dari bronkoskopi kaku dan lebih aman untuk pasien yang sakit parah.
·         Bronkoskop kaku
Adalah logam berongga dengan cahaya diujungnya. Bronkoskop ini  digunakan terutama untuk mengangkat benda asinng, mengangkat sekresi yang sangat kental, meneliti sumber hemoptisis massif, atau melakukan bedah endobronkial.
c)    Prosedur  persiapan pemeriksaan
·         Lensa kontak, gigi palsu dilepaskan
·         Pemeriksaan biasanya dilakukan dibawah anestesi lokal, tetapi mungkin saja diberikan anestesi umum
·         Anestesi topical seperti lidokain mungkin disemprotkan pada faring atau diteteskan pada epiglotis dan pita suara dan ke dalam trakeal untuk menekan reflex batuk dan meminimalkan rasa tidak nyaman.
·         Sedatif atau opioid diberikan sesuai yang diresepkan, secara intravena untuk sedasi tambahan.
C.    Pemeriksaan Biopsy
                        Biopsi pleural diselesaikan dengan biopsi jarum pleural atau dengan pleuroskopi, yang merupakan eksplorasi visual bronkoskopi serat optik yang dimasukka kedalam spasium pleural. Biopsi pleural dilakukan ketika terdapat kebutuhan untuk kultur atau pewarnaan jaringan untuk mengidentifikasi tuberkulosis atau fungi. Prosedur diagnostik Radioisotop (pemindaian paru).
                        Terdapat 3 pemindaian paru yaitu pemindaian perfusi, pemindaian ventilasi, dan pemindaianinhalasi. Prosedur ini digunkan untuk mendetekasi fungsi normal paru, suplai vaskuler pulmonal, dan pertukaran gas.
D.    Pemeriksaan Sputum
            Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukannya kuman BTA, diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan. Di samping itu pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan. Pemeriksaan ini mudah dan murah sehingga dapat dikerjakan di lapangan (puskesmas). Pemeriksaan BTA sputum merupakan pemeriksaan yang harus dilakukan pada penderita dengan gejala yang relevan dengan tb paru (batuk-batuk, batuk darah, nyeri dada, malaise), sebelu diputuskan pemberian obat antituberkulosis (OAT).
            Spesimen sputum diambil untuk mengidentifikasi tipe organisms yang berkembang dalam sputum. Suatu sputum kultur dan sensitivitas sputum (C dan S) mengidentifikasi mikroorganisme tertentu dan resistansi serta sensitivitasnya terhadap obat. Spesimen sputum juga dapat diambi I untuk mengidentifikasi adanya tuberkel basilus (TB), sputum untuk basilus cepat-asam (sputum for acid-fast bacillus [AFB]). Spesimen AFB diperoleh riga hari berturut-turut pada awal pagi hari. Sputum untuk sitologi adalah spesimen sputum yang diambil untuk mengidentifikasi kanker paru abnormal dengan tipe set. Pemeriksaan ini dilakukan dengan melakukan serangkaian pengumpulan spesimen riga hari berturut-turut pada awal pagi hari.
            Perawat harus memastikan spesimen sputum yang mengandung lendir dari bagian dalam bronkus dan bukan saliva. Carat warna, konsistensi, jumlah, dan bau sputum dan dokumentasi tanggal dan waktu spesimen dikirim ke laboratorium khusus untuk dianalisis.

Metode Fisiologi: Uji Fungsi Paru
A.    Uji Fungsi Ventilasi
            Pemeriksaan fungsi paru menentukan kemampuan paru-paru untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida secara efisien. Pemeriksaan ventilasi dasar dilakukan dengan mengguna­kan spirometer dan alat pencatat sementara khen bernapas melalui masker mulut (mouthpiece) yang dihubungkan dengan selang penghubung. Pengukuran yanc, dilakukan mencakup volume tidal (Vt), volume reserve inspirasi (IRV), volume residual (VR), dan volume ekspirasi yang dipaksa selama 1 detik (FEV1).
            Pemeriksaan fungsi paru biasanya dilakukan di laboratorium fungsi pulmonar. Perawat mempersiapkan klien dengan menjelaskan prosedur. Sebuah klip hidung mencegah klien menghirup udara atau mengeluarkan udara melalui hidung. Klien bernapas melalui sebuah masker mulut yang dihubungkan ke spirometer, yang berfungsi untuk mengukur volume paru. Klien diminta pada waktu-waktu tertentu untuk menghirup udara atau mengeluarkan sebanyak mungkin udara. Kerja sama klien sangat penting untuk memastikan hasil yang akurat.
            Kecepatan aliran ekspirasi puncak (peak expiratory flow rate [PEFR]) adalah titik aliran tertinggi yang dicapai selama ekspirasi maksimal dan titik ini mencerminkan terjaclinya perubahan ukuran jalan napas menjadi besar. Pengukuran ini sangat berkorelasi dan sama dengan FEV, (Walsh, 1992). Meter aliran ekspirasi puncak merupakan alat yang dipegang tangan sehingga memungkinkan klien asma mengikuti sejauh mina jalan napas terbuka. Informasi tentang kecepatan aliran ekspirasi puncak merupakan data pengkajian esensial untuk klien asma.
B.     Analisa Gas Darah
            Pemeriksaan gas darah dan PH digunakan sebagai pegangan dalam penanganan pasien-pasien penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah dipakai untuk menilai keseimbangan asam basa dalam tubuh, kadar oksigenasi dalam darah, kadar karbondioksida dalam darah. Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga dengan nama pemeriksaan “ASTRUP”, yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan melalui darah arteri. Lokasi pengambilan darah yaitu: Arteri radialis, A. brachialis, A. Femoralis.

a)        Ukuran-ukuran dalam analisa gas darah:
Analisa Gas Darah
Normal
PH
Pa CO2
Pa O2
Total CO2 dalam plasma
HC03
Base ekses
7,35-7,45
35-45 mmhg
80-100 mmhg
24-31 mEq/1
21-30 mEq/1
-2,4 sampai + 2,3
Saturasi O2 (SaO2 )
>90%

b)        Prosedur pengambilan gas darah arteri
Ø  Alat
·         Spuit gelas atau plastik 5 atau 10 ml
·         Botol heparin 10 ml, 1000 unit/ml (dosis-multi)
·         Jarum nomor 22 atau 25
·         Penutup udara dari karet
·         Kapas alcohol
·         Wadah berisi es (baskom atau kantung plastik)
·         Beri label untuk menulis status klinis pasien yang meliputi:
·         Nama, tanggal dan waktu
·         Apakah menerima O2 dan bila ya berapa banyak dan dengan rute apa
·         Suhu
c)        Tekhnik dan cara pengambilan darah arteri
·         Arteri radialis umumnya dipakai meskipun brakhialis juga dapat digunakan
·         Bila menggunakan pendekatan arteri radialis lakukan tes Allen’s. Secara terus menerus bendung arteri radialis dan ulnaris. Tangan akan putih kemudian pucat. Lepaskan aliran arteri ulnaris. Tes allen’s positif bila tangan kembali menjadi berwarna merah muda. Ini meyakinkan aliran arteri bila aliran arteri radialis tidal paten
·         Pergelangan tangan dihiperekstensikan dan tangan dirotasi keluar
·         1 ml heparin diaspirasi kedalam spuit, sehingga dasar spuit basah dengan heparin, dan kemudian kelebihan heparin dibuang melalui jarum, dilakukan perlahan sehingga pangkal jarum penuh dengan heparin dan tak ada gelembung udara.
·         Arteri brakialis atau radialis dilokalisasi dengan palpasi dengan jari tengah dan jari telunjuk, dan titik maksimum denyut ditemukan. Bersihkan tempat tersebut dengan kapas alcohol.
·         Jarum dimasukkan dengan perlahan kedalam area yang mempunyai pulsasi penuh. Ini akan paling mudah dengan memasukkan jarum dan spuit kurang lebih 45-90 derajat terhadap kulit, tepatnya jarum dan spuit pada posisi 90 derajat
·         Seringkali jarum masuk menembus pembuluh arteri dan hanya dengan jarum ditarik perlahan darah akan masuk ke spuit
·         Indikasi satu-satunya bahwa darah tersebut darah arteri adalah adanya pemompaan darah kedalam spuit dengan kekuatannya sendiri
·         Setelah darah 5 ml diambil, jarum dilepaskan dan petugas yang lain menekan area yang di pungsi selama sedikitnya 5 menit (10 menit untuk pasien yang mendapat antikoagulan)
·         Gelembung udara harus dibuang keluar spuit. Lepaskan jarum dan tempatkan penutup udara pada spuit. Putar spuit diantara telapak tangan untuk mencampurkan heparin
·         Spuit diberi label dan segera tempatkan dalam es atau air es, kemudian dibawa kelaboratorium
C.    Oksimetri Denyut Nadi
            Oksimetri nadi adalah metode pemantauan non-invasif secara kontinu terhadap saturasi oksigen hemoglobin ( SaO2 ).Oksimetri nadi merupakan Suatu cara efektif untuk mementau pasien terhadap perubahan saturasi oksigen yang kecil atau mendadak. Sensor atau probe sekali pakai diletakan pada ujung jari, dahi, daun telinga, atau batang hidung, sensor mendekteksi tingkat saturasi oksigen dengan memantau signal cahaya yang dibangkitkan oleh oksimetri dan dan direfleksikan oleh darah yang berdenyut melalaui jaringan pada probe. Nilai saturasi oksigen hemoglobin tidak dapat diandalkan dalam keadaan henti jantung, syok, penggunaan medikasi vasokonstriktor, pemberian zat warna per IV ( y.i.,biru metilen ) yang mewarnai darah, anemia berat, dan kadar karbondioksida tinggi. Kadar hemoglobin, gas darah arteri, dan pemeriksaan laboratorium lain diperlukan untuk memvalidasi hasil oksimetri nadi dalam keadaan seprti ini.
                                                Analisa

         Jenis gangguan asam basa
PH
Total CO2
PCO2
Asidosis respiratorik tidak terkonpensasi
Alkalosis respiratorik tidak terkonfensasi
Asidosis metabolic tidak terkonfensasi
Alkalosis metabolic tidak terkonfensasi
Asidosis respiratorik kompensasi alkalosis metabolic
Alkalosis respiratorik kompensasi asidosis metabolic
Asidosis metabolic kompensasi alkalosis respiratorik
Alkalosis metabolic kompensasi asidosis respiratorik
Rendah
Tinggi
Rendah
Tinggi
Normal
Normal
Normal
Normal
Tinggi
Rendah
Rendah
Tinggi
Tinggi
Rendah
Rendah
Tinggi
Tinggi
Rendah
Normal
Rendah
Normal
Normal
Rendah
Tinggi

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & suddarth. (2001).Buku ajar keperawatan medical bedah. Edisi 5. Jakarta : EGC.
www.wikipedia indonesia.com
Potter and Perry. 2006. Fundamental Keperawatan Vol.1. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Priharjo, Robert. 1996. Pengkajian Fisik Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Setiawati, Santun. 2007. Panduan Praktis Pengkajian Fisik Keperawatan. Jakarta : Trans Info Medika.

0 komentar:

Posting Komentar