Metode
Morfologi
A.
Teknik
Radiologi
Toraks merupakan tempat yang ideal
untuk pemeriksaan radiologi. Parenkim paru yang berisi udara memberikan
resistensi yang kecil terhadap jalannya sinar X, karena itu parenkim
menghasilkan bayangan yang sangat bersinar-sinar. Jaringan lunak dinding dada,
jantung dan pembuluh-pembuluh darah besar serta diafragma lebih sukar ditembus
sinar X dibandingkan parenkim paru sehingga bagian ini akan tampak lebih padat
pada radiogram. Struktur toraks yang bertulang (termasuk iga, sternum dan
vertebra) lebih sulit lagi ditembus, sehingga bayangannya lebih padat lagi.
Metode radiografi yang biasa digunakan untuk menentukan penyakit paru adalah:
a) Radiografi
Dada Rutin
Dilakukan pada suatu jarak standar
setelah inspirasi maksimum dan menahan napas untuk menstabilkan diafragma.
Radiograf diambil dengan sudut pandang posteroanterior dan kadang juga diambil
dari sudut pandang lateral dan melintang. Radiograf yang dihasilkan memberikan
informasi sebagai berikut:
·
Status rangka toraks termasuk iga, pleura dan kontur
diafragma dan saluran napas atas pada waktu memasuki dada.
·
Ukuran, kontur dan posisi mediastinum dan hilus paru,
termasuk jantung, aorta, kelenjar limfe dan percabangan bronkus
·
Tekstur dan derajat aerasi parenkim paru
·
Ukuran, bentuk, jumlah dan lokasi lesi paru termasuk
kavitasi, tanda fibrosis dan daerah konsolidasi.
b) Tomografi
computer (CT Scan)
Yaitu
suatu teknik gambaran dari suatu “irisan paru” yang diambil sedemikian rupa
sehingga dapat diberikan gambaran yang cukup rinci. CT scan dipadukan dengan
radiograf dada rutin. CT scan berperan penting dalam:
·
Mendeteksi ketidaknormalan konfigurasi trakea serta
cabang utama brronkus
·
Menentukan lesi pada pleura atau mediastinum (nodus,
tumor, struktur vaskular)
·
Dapat mengungkapkan sifat serta derajat kelaianan
bayangan yang terdapat pada paru dan jaringan toraks lain
CT scan bersifat tidak infasif sehingga CT scan mediastinum sering digunakan untuk menilai ukuran nodus limfe mediastinum dan stadium kanker paru, walaupun tidak seakurat bila menggunakan mediastisnokopi.
CT scan bersifat tidak infasif sehingga CT scan mediastinum sering digunakan untuk menilai ukuran nodus limfe mediastinum dan stadium kanker paru, walaupun tidak seakurat bila menggunakan mediastisnokopi.
c) Pencitraan
Resonansi Magnetik (MRI).
MRI
menggunakan resonansi magnetic sebagai sumber energy untuk mengambil gambaran
potongan melintang tuubuh. Gambaran yang dihasilkan dalam berbagai bidang,
dapat membedakan jaringan yang normal dan jaringan yang terkena penyakit (pada
CT scan tidak dapat dibedakan), dapat membedakan antara pembuluh darah dengan
struktur nonvascular, walaupun tanpa zat kontras. Namun, MRI lebih mahal
dibandingkan CT scan. MRI khususnya digunakan dalam mengevaluasi penyakit pada
hilus dan mediastinum.
d) Ultrasounds
Tidak dapat mengidentifikasi penyakit parenkim paru. Namun, ultrasound dapat membantu mendeteksi cairan pleura yang akan timbul dan sering digunakan dalam menuntun penusukan jarum untuk mengambil cairan pleura pada torakosentesis.
Tidak dapat mengidentifikasi penyakit parenkim paru. Namun, ultrasound dapat membantu mendeteksi cairan pleura yang akan timbul dan sering digunakan dalam menuntun penusukan jarum untuk mengambil cairan pleura pada torakosentesis.
e) Angiografi
Pembuluh Paru.
Memasukkan
cairan radoopak melalui kateter yang dimasukkan lewat vena lengan ke dalam
atrium kanan, ventrikel kanan lalu ke dalam arteri pulmonalis utama. Teknik ini
digunakan untuk menentukan lokasi emboli massif atau untuk menentukan derajat
infark paru. Resiko utama dalam angiografi yaitu timbulnya aritmia jantung saat
kateter dimasukkan ke dalam bilik jantung.
f)
Pemindaian Paru
Pemindaian
paru dengan menggunakan isotop, walaupun merupakan metode yang kurang dapat
diandalkan untuk mendeteksi emboli paru, tetapi prosedur ini lebih aman
dibandingkan dengan angiografi.
B.
Bronkoskopi
Bronkoskopi merupakan tehnik yang
memungkinkan visualisasi langsung trakea dan cabang-cabang utamanya. Bronkoskopi
adalah inspeksi dan pemeriksaan langsung terhadap laring, trakea, dan bronki
baik melalui bronkoskopi serat optik yang fleksibel atau bronkoskopi yang kaku.
Cara ini paling sering digunakan untuk memastikan diagnosis karsinoma
bronkogenik, tetapi dapat juga digunakan untuk membuang benda asing.
Setelah bronkoskopi, pasien tidak
boleh makan atau minum minimum 2 sampai 3 jam sampai timbul reflex munta, jika
tidak pasien mungkin akan mengalami aspirasi ke dalam cabang trakeobronkial.
a)
Tujuan bronkoskopi diagnostic
·
Untuk memeriksa jaringan atau mengumpulkan sekresi
·
Untuk menentukan lokasi dan keluasan proses patologi
dan untuk mendapatkan contoh jaringan guna untuk menegakkan diagnosa.
·
Menentukan apakah suatu tumor dapat direksesi atau
tidak melalui tindakan bedah.
·
Untuk mendiagnosa tempat perdarahan.
b)
Jenis-jenis brokoskop
·
Bronkoskop serat optic
Adalah
bronkoskop yang tipis dan fleksibel yang dapat diarahkan kedalam bronki
segmental.ukurannya yang lebih kecil, fleksibilitas, dan system optikal yang
sangat baik, bronkoskop serat optic memungkinkan peningkatan visualisasi
jalan napas perifer dan sangat tepat untuk mendiagnosa lesi pulmonal.
Bronkoskopi serat optic lebih baik dari bronkoskopi kaku dan lebih aman untuk
pasien yang sakit parah.
·
Bronkoskop kaku
Adalah logam berongga dengan cahaya diujungnya.
Bronkoskop ini digunakan terutama untuk mengangkat benda asinng,
mengangkat sekresi yang sangat kental, meneliti sumber hemoptisis massif, atau
melakukan bedah endobronkial.
c)
Prosedur persiapan pemeriksaan
·
Lensa kontak, gigi palsu dilepaskan
·
Pemeriksaan biasanya dilakukan dibawah anestesi lokal,
tetapi mungkin saja diberikan anestesi umum
·
Anestesi topical seperti lidokain mungkin disemprotkan
pada faring atau diteteskan pada epiglotis dan pita suara dan ke dalam trakeal
untuk menekan reflex batuk dan meminimalkan rasa tidak nyaman.
·
Sedatif atau opioid diberikan sesuai yang diresepkan,
secara intravena untuk sedasi tambahan.
C.
Pemeriksaan
Biopsy
Biopsi pleural diselesaikan dengan biopsi jarum
pleural atau dengan pleuroskopi, yang merupakan eksplorasi visual bronkoskopi
serat optik yang dimasukka kedalam spasium pleural. Biopsi pleural dilakukan
ketika terdapat kebutuhan untuk kultur atau pewarnaan jaringan untuk
mengidentifikasi tuberkulosis atau fungi. Prosedur diagnostik Radioisotop (pemindaian paru).
Terdapat 3 pemindaian paru yaitu pemindaian perfusi, pemindaian ventilasi, dan pemindaianinhalasi. Prosedur ini digunkan untuk mendetekasi fungsi normal paru, suplai vaskuler pulmonal, dan pertukaran gas.
Terdapat 3 pemindaian paru yaitu pemindaian perfusi, pemindaian ventilasi, dan pemindaianinhalasi. Prosedur ini digunkan untuk mendetekasi fungsi normal paru, suplai vaskuler pulmonal, dan pertukaran gas.
D.
Pemeriksaan
Sputum
Pemeriksaan sputum adalah penting
karena dengan ditemukannya kuman BTA, diagnosis tuberkulosis sudah dapat
dipastikan. Di samping itu pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi
terhadap pengobatan yang sudah diberikan. Pemeriksaan
ini mudah dan murah sehingga dapat dikerjakan di lapangan (puskesmas).
Pemeriksaan BTA sputum merupakan pemeriksaan yang harus dilakukan pada
penderita dengan gejala yang relevan dengan tb paru (batuk-batuk, batuk darah,
nyeri dada, malaise), sebelu diputuskan pemberian obat antituberkulosis (OAT).
Spesimen sputum diambil untuk mengidentifikasi tipe organisms yang berkembang
dalam sputum. Suatu sputum kultur dan sensitivitas sputum (C dan S)
mengidentifikasi mikroorganisme tertentu dan resistansi serta sensitivitasnya
terhadap obat. Spesimen sputum juga dapat diambi I untuk mengidentifikasi
adanya tuberkel basilus (TB), sputum untuk basilus cepat-asam (sputum for
acid-fast bacillus [AFB]). Spesimen AFB diperoleh riga hari berturut-turut pada
awal pagi hari. Sputum untuk sitologi adalah spesimen sputum yang diambil untuk
mengidentifikasi kanker paru abnormal dengan tipe set. Pemeriksaan ini
dilakukan dengan melakukan serangkaian pengumpulan spesimen riga hari
berturut-turut pada awal pagi hari.
Perawat harus memastikan spesimen sputum yang mengandung lendir dari bagian
dalam bronkus dan bukan saliva. Carat warna, konsistensi, jumlah, dan bau
sputum dan dokumentasi tanggal dan waktu spesimen dikirim ke laboratorium
khusus untuk dianalisis.
Metode
Fisiologi: Uji Fungsi Paru
A.
Uji
Fungsi Ventilasi
Pemeriksaan fungsi paru menentukan kemampuan paru-paru untuk melakukan
pertukaran oksigen dan karbon dioksida secara efisien. Pemeriksaan ventilasi
dasar dilakukan dengan menggunakan spirometer dan alat pencatat sementara khen
bernapas melalui masker mulut (mouthpiece) yang dihubungkan dengan selang
penghubung. Pengukuran yanc, dilakukan mencakup volume tidal (Vt),
volume reserve inspirasi (IRV), volume residual (VR), dan volume ekspirasi yang
dipaksa selama 1 detik (FEV1).
Pemeriksaan fungsi paru biasanya dilakukan di laboratorium fungsi pulmonar.
Perawat mempersiapkan klien dengan menjelaskan prosedur. Sebuah klip hidung
mencegah klien menghirup udara atau mengeluarkan udara melalui hidung. Klien
bernapas melalui sebuah masker mulut yang dihubungkan ke spirometer, yang
berfungsi untuk mengukur volume paru. Klien diminta pada waktu-waktu tertentu
untuk menghirup udara atau mengeluarkan sebanyak mungkin udara. Kerja sama
klien sangat penting untuk memastikan hasil yang akurat.
Kecepatan aliran ekspirasi puncak (peak expiratory flow rate [PEFR]) adalah
titik aliran tertinggi yang dicapai selama ekspirasi maksimal dan titik ini
mencerminkan terjaclinya perubahan ukuran jalan napas menjadi besar. Pengukuran
ini sangat berkorelasi dan sama dengan FEV, (Walsh, 1992). Meter aliran
ekspirasi puncak merupakan alat yang dipegang tangan sehingga memungkinkan
klien asma mengikuti sejauh mina jalan napas terbuka. Informasi tentang
kecepatan aliran ekspirasi puncak merupakan data pengkajian esensial untuk
klien asma.
B.
Analisa
Gas Darah
Pemeriksaan gas darah dan PH
digunakan sebagai pegangan dalam penanganan pasien-pasien penyakit berat yang
akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah dipakai untuk menilai keseimbangan asam
basa dalam tubuh, kadar oksigenasi dalam darah, kadar karbondioksida dalam
darah. Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga dengan nama pemeriksaan
“ASTRUP”, yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan melalui darah
arteri. Lokasi pengambilan darah yaitu: Arteri radialis, A. brachialis, A.
Femoralis.
a)
Ukuran-ukuran dalam analisa gas darah:
Analisa Gas Darah
|
Normal
|
PH
Pa CO2
Pa O2
Total CO2 dalam plasma
HC03
Base ekses
|
7,35-7,45
35-45 mmhg
80-100 mmhg
24-31 mEq/1
21-30 mEq/1
-2,4 sampai + 2,3
|
Saturasi O2 (SaO2 )
|
>90%
|
b)
Prosedur pengambilan gas darah arteri
Ø Alat
·
Spuit gelas atau plastik 5 atau 10 ml
·
Botol heparin 10 ml, 1000 unit/ml (dosis-multi)
·
Jarum nomor 22 atau 25
·
Penutup udara dari karet
·
Kapas alcohol
·
Wadah berisi es (baskom atau kantung plastik)
·
Beri label untuk menulis status klinis pasien yang
meliputi:
·
Nama, tanggal dan waktu
·
Apakah menerima O2 dan bila ya berapa banyak dan
dengan rute apa
·
Suhu
c)
Tekhnik dan cara pengambilan
darah arteri
·
Arteri radialis umumnya dipakai meskipun brakhialis
juga dapat digunakan
·
Bila menggunakan pendekatan arteri radialis lakukan
tes Allen’s. Secara terus menerus bendung arteri radialis dan ulnaris. Tangan
akan putih kemudian pucat. Lepaskan aliran arteri ulnaris. Tes allen’s positif
bila tangan kembali menjadi berwarna merah muda. Ini meyakinkan aliran arteri
bila aliran arteri radialis tidal paten
·
Pergelangan tangan dihiperekstensikan dan tangan
dirotasi keluar
·
1 ml heparin diaspirasi kedalam spuit, sehingga dasar
spuit basah dengan heparin, dan kemudian kelebihan heparin dibuang melalui
jarum, dilakukan perlahan sehingga pangkal jarum penuh dengan heparin dan tak
ada gelembung udara.
·
Arteri brakialis atau radialis dilokalisasi dengan
palpasi dengan jari tengah dan jari telunjuk, dan titik maksimum denyut
ditemukan. Bersihkan tempat tersebut dengan kapas alcohol.
·
Jarum dimasukkan dengan perlahan kedalam area yang
mempunyai pulsasi penuh. Ini akan paling mudah dengan memasukkan jarum dan
spuit kurang lebih 45-90 derajat terhadap kulit, tepatnya jarum dan spuit pada
posisi 90 derajat
·
Seringkali jarum masuk menembus pembuluh arteri dan
hanya dengan jarum ditarik perlahan darah akan masuk ke spuit
·
Indikasi satu-satunya bahwa darah tersebut darah
arteri adalah adanya pemompaan darah kedalam spuit dengan kekuatannya sendiri
·
Setelah darah 5 ml diambil, jarum dilepaskan dan
petugas yang lain menekan area yang di pungsi selama sedikitnya 5 menit (10
menit untuk pasien yang mendapat antikoagulan)
·
Gelembung udara harus dibuang keluar spuit. Lepaskan
jarum dan tempatkan penutup udara pada spuit. Putar spuit diantara telapak
tangan untuk mencampurkan heparin
·
Spuit diberi label dan segera tempatkan dalam es atau
air es, kemudian dibawa kelaboratorium
C.
Oksimetri
Denyut Nadi
Oksimetri nadi adalah metode
pemantauan non-invasif secara kontinu terhadap saturasi oksigen hemoglobin (
SaO2 ).Oksimetri nadi merupakan Suatu cara efektif untuk mementau
pasien terhadap perubahan saturasi oksigen yang kecil atau mendadak. Sensor
atau probe sekali pakai diletakan pada ujung jari, dahi, daun telinga, atau
batang hidung, sensor mendekteksi tingkat saturasi oksigen dengan memantau
signal cahaya yang dibangkitkan oleh oksimetri dan dan direfleksikan oleh darah
yang berdenyut melalaui jaringan pada probe. Nilai saturasi oksigen hemoglobin
tidak dapat diandalkan dalam keadaan henti jantung, syok, penggunaan medikasi
vasokonstriktor, pemberian zat warna per IV ( y.i.,biru metilen ) yang mewarnai
darah, anemia berat, dan kadar karbondioksida tinggi. Kadar hemoglobin, gas
darah arteri, dan pemeriksaan laboratorium lain diperlukan untuk memvalidasi
hasil oksimetri nadi dalam keadaan seprti ini.
Analisa
Jenis gangguan asam basa
|
PH
|
Total CO2
|
PCO2
|
Asidosis respiratorik tidak terkonpensasi
Alkalosis respiratorik tidak terkonfensasi
Asidosis metabolic tidak terkonfensasi
Alkalosis metabolic tidak terkonfensasi
Asidosis respiratorik kompensasi alkalosis metabolic
Alkalosis respiratorik kompensasi asidosis metabolic
Asidosis metabolic kompensasi alkalosis respiratorik
Alkalosis metabolic kompensasi asidosis respiratorik
|
Rendah
Tinggi
Rendah
Tinggi
Normal
Normal
Normal
Normal
|
Tinggi
Rendah
Rendah
Tinggi
Tinggi
Rendah
Rendah
Tinggi
|
Tinggi
Rendah
Normal
Rendah
Normal
Normal
Rendah
Tinggi
|
DAFTAR
PUSTAKA
Brunner
& suddarth. (2001).Buku ajar keperawatan medical bedah. Edisi 5.
Jakarta : EGC.
www.wikipedia indonesia.com
Potter and Perry. 2006. Fundamental
Keperawatan Vol.1. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Priharjo, Robert. 1996. Pengkajian
Fisik Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Setiawati, Santun. 2007. Panduan
Praktis Pengkajian Fisik Keperawatan. Jakarta : Trans Info Medika.
0 komentar:
Posting Komentar